<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-38586737</id><updated>2011-11-27T15:44:34.686-08:00</updated><category term='Sejarah'/><category term='Sosial'/><category term='pane'/><category term='Berita'/><title type='text'>Kerajaan Pane</title><subtitle type='html'>Merupakan Kerajaan Yang Paling Lama Dalam Peradaban Batak. Berlokasi di Pantai Timur Sumatera dan Sekarang Sudah Hilang, Berasimilasi Menjadi Marga Pane di Budaya Batak Modern</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://kerajaanpane.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/38586737/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kerajaanpane.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>Tony</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>10</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-38586737.post-2124953202878091892</id><published>2009-11-24T10:21:00.000-08:00</published><updated>2009-11-24T10:23:50.747-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='pane'/><title type='text'>Silang budaya Melayu</title><content type='html'>&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 100px;" src ="http://1.bp.blogspot.com/_2Jm7x_QJfio/SQkFqkhrFQI/AAAAAAAAbhk/rNYjgxGQOd0/s400/PIC_7561.JPG"&gt;Kaum Munda telah berjaya menyeberangi laut kecil tersebut dan mendirikan sebuah kerajaan di Batang Pane, Portibi, diduga peristiwa ini terjadi di akhir abad ke – 6. Kerajaan Munda Holing di Portibi ini telah menjadi mashur dan meluaskan wilayah taklukannya hingga kesebahagian besar pantai Sumatera dan Tanah Melayu. &lt;div class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Keadaan ini menimbulkan kemarahan kepada Maharaja Rajenderacola lalu beliau menyerang kerajaan Munda Holing dan negara pantai lainnyadi abad ke-9. Tenteara kerajaan Munda Holing yang di pimpin oleh Raja Odap-Odap telah ditewaskan oleh Rajenderacola dan berkuasa di seluruh daerah Batang Pane. Tunangannya Borudeakparujar telah melintasi Dolok Maela (sempena Himalaya yang didaki oleh nenek moyangnya) dengan menggenggam segumpal tanah di Portibi untuk menempah satu kerajaan baru (Menempah banua).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://wisata.kompasiana.com/2009/10/25/swarnadwipa-silang-budaya/"&gt;More&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/38586737-2124953202878091892?l=kerajaanpane.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/38586737/posts/default/2124953202878091892'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/38586737/posts/default/2124953202878091892'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kerajaanpane.blogspot.com/2009/11/silang-budaya-melayu.html' title='Silang budaya Melayu'/><author><name>Tony</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_2Jm7x_QJfio/SQkFqkhrFQI/AAAAAAAAbhk/rNYjgxGQOd0/s72-c/PIC_7561.JPG' height='72' width='72'/></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-38586737.post-7312379496582300535</id><published>2009-11-24T10:19:00.000-08:00</published><updated>2009-11-24T10:21:31.965-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='pane'/><title type='text'>Budaya Melayu Dalam Kerajaan Pane</title><content type='html'>&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 100px;" src ="http://www.kab-karimun.go.id/images/dinas/foto_kegiatan/12426cc.jpg"&gt;Pemakaian bahasa Melayu kuno tersebar di berbagai candi dan biara, baik di Palembang, Hulu Jambi, Muara Takus dan di beberapa biara di Padang Lawas (Kerajaan Pane) abad ke-11 M. Terdapat juga di batu nisan keluarga raja di Pasai (Minyak Tujuh) abad ke-14 M.&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Tercatat pula bahwa Parameshwara, seorang pelarian bangsawan dari Palembang yang dikejar-kejar tentara kerajaan Majapahit, membangun negeri di Melaka dengan perlindungan Cina. Negeri itu menjadi bandar transit perdagangan di sepanjang Selat Melaka dan Laut Cina Selatan. Dilanjutkan sampai ke sentero penjuru Nusantara dan Asia Tenggara, sehingga Melaka menjadi bandar utama di dunia pada masa 1400 M.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Luasnya sebaran peradaban bangsa Melayu, yang beradaptasi dan tumbuh di berbagai penjuru dunia, tak hanya di Indonesia. Tapi juga di wilayah Afrika Selatan dan Asia Tenggara meliputi: Malaysia, Brunei Darussalam, Singapura, Thailand, Myanmar, Vietnam, Filipina, Kamboja, Srilanka, dan Madagaskar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://www.gong.tikar.or.id/?mn=lintasbudaya&amp;kd=32"&gt;More&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/38586737-7312379496582300535?l=kerajaanpane.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/38586737/posts/default/7312379496582300535'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/38586737/posts/default/7312379496582300535'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kerajaanpane.blogspot.com/2009/11/budaya-melayu-dalam-kerajaan-pane.html' title='Budaya Melayu Dalam Kerajaan Pane'/><author><name>Tony</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-38586737.post-1823065248851713149</id><published>2009-11-24T10:16:00.000-08:00</published><updated>2009-11-24T10:19:40.725-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='pane'/><title type='text'>Kerajaan Pane dalam Legenda Putri Hijau</title><content type='html'>&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 100px;" src ="http://teateraron.files.wordpress.com/2007/12/putri-hijau-aron-2009.jpg"&gt;Tapi musibah kedua menimpa Haru ketika tentara Kerajaan Majapahit pada tahun 1350 M juga tiba dan menaklukkan daerah ini. Dalam kronik Negara Kertagama karangan Mpu Prapanca disebut bahwa di samping Panay (Kerajaan Pane di Portibi), juga ditaklukkan Kampe (Kompai) dan Harw (Haru). Di hulu sungai Ular, masih ada kampung bernama “Kota Jawa” dan “Timbun Tulang” yang menurut legenda di teluk Haru menunjukkan adanya lokasi penimbunan tulang tentara Majapahit yang mati diracuni gadis-gadis setempat.&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Setelah lepas dari cengkeraman Majapahit, Haru kembali berhubungan dengan Tiongkok. Pada tahun 1412 M, Laksamana Cheng Ho yang diutus Kaisar Tiongkok mengunjungi pulau-pulau di nusantara, singgah di Haru. Kunjungan itu mencatat bahwa penguasa Haru kala itu bernama Tuanku Alamsyah, putra dari Sultan Husin (raja sebelumnya). Cheng Ho, laksamana legendaris dari Tiongkok, mengangkut persembahan Haru untuk Tiongkok. Tercatat dua kali Cheng Ho singgah di Haru. Setelah itu ia tak pernah muncul lagi karena Tiongkok juga bergolak oleh perang dinasti yang tiada henti. &lt;br /&gt;&lt;a href="http://www.insidesumatera.com/?open=view&amp;newsid=509&amp;go=Legenda%20Puteri%20Hijau%20dari%20Negeri%20Haru"&gt;&lt;br /&gt;More&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/38586737-1823065248851713149?l=kerajaanpane.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/38586737/posts/default/1823065248851713149'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/38586737/posts/default/1823065248851713149'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kerajaanpane.blogspot.com/2009/11/kerajaan-pane-dalam-legenda-putri-hijau.html' title='Kerajaan Pane dalam Legenda Putri Hijau'/><author><name>Tony</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-38586737.post-2209631383716553120</id><published>2008-04-21T09:04:00.000-07:00</published><updated>2008-04-21T09:05:04.262-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Sosial'/><title type='text'>Modus: Sopir "Siong"</title><content type='html'>&lt;a href="http://photos1.blogger.com/x/blogger/1842/3922/1600/218539/pane.gif"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://photos1.blogger.com/x/blogger/1842/3922/320/466270/pane.png" border="0" alt="" /&gt;&lt;/a&gt;Senin, 21 April 2008 00:00 WIB&lt;br /&gt;Diburon Dua Tahun, Sopir Tanki “Siong” Dibekuk  &lt;br /&gt;KISARAN, WASPADA Online&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Petugas Polres Asahan berhasil menangkap sopir mobil tanki yang melakukan kejahatan “siong” (menggelapkan muatannya-red) setelah diburon selama dua tahun dalam penggerebekan di tempat persembunyiannya di kawasan Dumai, Provinsi Riau, Kamis (17/4) sekira pukul 15.00.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; M, 53, warga Desa Sumberpadi, Kec.Limapuluh, Batubara pada 25 Maret 2006 diduga menggelapkan sebanyak 60 kilogram minyak solar dari tanki CV. Pelita Jaya BK 9877 DI yang dikemudikannya di Warung Trubus, Desa Simpanggambus, Kec.Limapuluh, Batubara,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam melakukan kejahatan “siong” itu, rupanya petugas Polres Asahan sudah mengintai dan melakukan pengerebekan. Ketika itu sopir tanki yang berhasil ditangkap berinisial TG, 53, warga Desa Kabukabu, Simalungun. Sedang M berhasil kabur dengan meninggalkan barang bukti 60 kilogram minyak solar yang belum sempat terjual dan mobil tanki CV. Pelita Jaya BK 9877 DI.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Minyak solar tersebut dibawa tersangka dari perkebunan Mayang, Simalungun. Sedang tujuannya ke PT.Musim Mas Nabati di Kualatanjung. Tetapi di tempat tertentu sebagian muatan sengaja digelapkan untuk mencari keuntungan pribadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat ditangkap petugas, tersangka sedang berada di warung bersama teman seprofesinya. Dia tidak menyangka dirinya ditangkap karena kasusnya sudah berlangsung selama dua tahun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kapolres Asahan AKBP Drs.Imam Margono dibuhubungi melalui Kasat Reskrim AKP AY.Harahap, Sabtu (19/4), membenarkan. “Penangkapan itu dipimpin Kanit Resum Iptu Teddy Parlindungan bersama sejumlah anggota setelah kita mendapatkan informasi tentang keberadaan tersangka,” ujarnya.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/38586737-2209631383716553120?l=kerajaanpane.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/38586737/posts/default/2209631383716553120'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/38586737/posts/default/2209631383716553120'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kerajaanpane.blogspot.com/2008/04/modus-sopir-siong.html' title='Modus: Sopir &quot;Siong&quot;'/><author><name>Tony</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-38586737.post-3975297393868065415</id><published>2008-04-09T02:14:00.000-07:00</published><updated>2008-04-09T02:15:14.196-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Sejarah'/><title type='text'>Sejarah Sultan Alam Bagagar Shah Dalam Kemelut Perang Paderi</title><content type='html'>&lt;a href="http://photos1.blogger.com/x/blogger/1842/3922/1600/218539/pane.gif"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://photos1.blogger.com/x/blogger/1842/3922/320/466270/pane.png" border="0" alt="" /&gt;&lt;/a&gt; Minggu, 06 April 2008 00:42 WIB&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;WASPADA Online&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh Tuanku Luckman Sinar Basarshah-II&lt;br /&gt;Sultan Serdang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;TERBAKARNYA Pos Belanda di Padang dan Pariaman telah menimbulkan malu yang sangat besar bagi Belanda. Kebakaran itu dilakukan 2 bersaudara dari Suruasso pada tahun 1714. Setelah itu, keduanya menghilang. Mereka mengaku waris dari tahta Kerajaan Pagarruyung, yang waktu itu tahtanya dipegang oleh Raja Muning Shah alias Tuanku Nan Tuah, yang berhasil menyelamatkan diri dari uberan kaum Paderi. Raja Muning Shah ini mempersunting Tuan Gadis, tetapi kemudian bercerai dan Tuan Gadis kembali ke Suruasso.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sir Stamford Raffles, Letnan Gubernur Inggris di Bengkulu, pernah meminta bantuan kepada 2 bersaudara bengsawan Suruasso ini untuk mendampinginya melawat ke pedalaman Minangkabau. Ketika Belanda berkuasa, kedua bangsawan Suruasso ini beserta Sultan Alam Bagagar Shah disertai banyak pemukapemuka adat Minangkabau lainnya, dikumpulkan Belanda dengan dalih untuk “melindungi mereka dari ancaman Paderi”. Waktu itu Belanda sudah mendeking mereka dengan 100 orang serdadu ditambah 2 buah meriam besar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi alangkah terkejutnya mereka ketika dipaksa dengan ancaman harus menandatangani Pernyataan untuk melepaskan semua tanah Minangkabau buat diserahkan kepada Hindia Belanda. Itu terjadi pada 10-2-1821, ketika itu Raja Muning Shah masih bersembunyi di Lubuk Jambi.  Maka dianggap Sultan Alam Bagagar Shah yang menggantikannya.(“Al die hoofden eene overeenkomst was getekend geworden, waarbij een afstand van alle Minangkabausche landen aan het Gouvernement werd bekend gestend”). Mereka yang menandatangani di bawah ancaman Belanda itu ialah:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Daulat Yang Dipertuan Sultan Alam Bagagarshah van Pagarruyung;&lt;br /&gt;- Yang Dipertuan Sutan Kerajaan Alam van Suruasso;&lt;br /&gt;- Yang Dipertuan Raja Tangsir Alam van Suruasso;&lt;br /&gt;- Datuk Basuko en Datuk Mudo (voor zich en de overige 12 penghulu = untuk diri sendiri dan atas nama 12 Penghulu) van Batipuh;&lt;br /&gt;- Datuk Raja Muda en Datuk Palindih (voor zich en de overige 6 penghulu van Singkarak);&lt;br /&gt;- Datuk Raja Muda en Datuk Raja Bagagar (voor zich en de overige 8 penghulu van Saningbakar);&lt;br /&gt;- Datuk Raja Nan Sati (voor zich en de overige 5 penghulu van Bunga Tanjung);&lt;br /&gt;- Datuk Gadang Maharajalela (voor zich en de overige 5 penghulu van Pitalah);&lt;br /&gt;- Datuk Sati (voor zich en de overige 4 penghulu van Tg. Berulak);&lt;br /&gt;- Datuk Raja Bukuet (voor  zich en de overige  4 penghulu van Gunung Raja);&lt;br /&gt;- Datuk Penghulu Besar (voor zich en de overige 4 penghulu van Batu Sangkar);&lt;br /&gt;- Datuk Maharaja Lela (voor zich en de overige 6 penghulu van Sumpur);&lt;br /&gt;- Datuk Seripada (voor zich en de overige 6 penghulu van Melala);&lt;br /&gt;- Datuk Nakoda Intan en Datuk Paduka (voor zich en de overige 6 penghulu van Semawang);&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Deze Toewankoe Alam Bagagarshah was zusterkind en dus, volgens de landinstellingen, de wettige opvolger van bovengenoemden Raja Muningshah. Hij is later Regent van Tanah Datar geweest”.1.(Tuanku Alam Bagagarshah ini adalah putera dari saudara perempuan jadi menurut adat istiadat negeri ini, merupakan pengganti yang syah dari Raja Muningsyah tersebut. Ia kemudian menjadi Regent Tanah Datar).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada 1824 Tuanku Nan Tuah alias Raja Muning Shah kembali ke Pagarruyung dari tempat persembunyiannya di Lubuk Jambi. Ternyata ia masih populer dan disambut rakyat dengan meriah di sana. Ia kemudian tinggal dengan tenang dan aman, karena tempat itu dijaga oleh pasukan Belanda yang membuat benteng disana sejak tangal 1 Januari 1823.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada 1826 Raja Muning Shah mangkat di Pagarruyung. Belanda mau melenyapkan bekas imperium tua Kerajaan Pagarruyung dan lalu memecah konsentrasi kekuasaan di Minangkabau itu. (De oude Vorst van Minangkabau, Raja Muningsyah of Tuanku Nan Tuah, kwam ook in het jaar 1826 te overlijden. Zijn Neef, Sultan Alam Bagagarsyah, was als Regent van Tanah Datar opgetreden en Tuanku Samat, een zoon van een der instellers der Padrische sekte, als Regent van Agam”. (Raja tua dari Minangkabau, Raja Muningsyah atau Tuanku Nan Tuah, mangkat pada tahun 1826. Keponakannya, Sultan Alam Bagagarsyah, diangkat sebagai Regent Tanah Datar dan Tuanku Samat, putera dari salah seorang pendiri Padri, diangkat sebagai Regent Agam).2&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rakyat tidak senang dengan politik pecah belah kekuasaan yang dilakukan Belanda, karena  politik licik Belanda agar dengan melalui para Regent (dan bawahannya para Kepala Laras dan Nagari serta Penghulu kampung dan Dusun) lebih mudah mengutip belasting dan  mengatur agar perdagangan rakyat tidak bebas lagi. Tidak mustahil jika banyak daerah seperti Sumpur, Batipuh, Sungai Bakau dan lain-lain berusaha sepandai mungkin menghindar dari tekanan Belanda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(“……….de Resident en militaire Commandant gezamenlijk gemachtigd, onder nadere goedkeuring pachten of belasting in te voeren”)3. Oleh karena itu kaum Paderi berusaha akan membunuh Regent Tanah Datar, karena mereka mencurigai politik Belanda dibelakang layar, nanti akan melebarkan kekuasaan dia sampai ke pedalaman.  (“Men wil ook, dat die Tuanku (Pasaman van Lintau). maar wel de Regent van Tanah Datar, Sultan Alam Bagagarsyah, hem om het leven heft doen brengen, voon namelijk uit ijverzucht als bevreesd dat het Gouvernement hem eens het gezag over de binnen landen zou opdragen”.4  Mereka sebenarnya menghendaki ia digantikan oleh seorang Arab bernama Sayed Salimul Jafried, yang ahli hukum Islam tetapi juga pernah jadi orang kepercayaan Kolonel Stuers dulu. Dia ini pandai masuk kesana kemari. 5&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada akhir tahun 1832, kaum Paderi pimpinan Tuanku Tambusai dibantu Panglimanya Tuanku Rao, telah hampir menguasai seluruh Tapanuli Selatan khususnya Padang Lawas, yang membuat Belanda serba salah karena takut melanggar perjanjian London 1824 dengan Inggris. Kesempatan ini dipergunakan oleh Sentot Ali Basa, yang menurut Belanda berusaha, mengikat kembali rantai perlawanan menentang Belanda di Tanah Minangkabau bersama wilayah Tapanuli Selatan. Menurut laporan Belanda, Sentot Ali Basa, ini sengaja mau menimbulkan kekacauan kembali, dengan maksud agar dia nanti bisa meredakannya sendiri, dengan harapan agar Belanda mengangkat dia jadi raja (Panembahan) disesuatu daerah di Sumatera.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk itu ia bersedia bekerja sama dengan Regent Tanah Datar Sultan Alam Bagagar Shah dan dengan Tuanku Nan Cerdik. “Terzelfde tijd werd het den Resident en Militiairen Komandant ook duidelijk dat de ontwerpen tot dien opstand geheel bekend waren geweest aan de Ali Basa, aan den Regent van Tanah Datar, Tuanku Pagarruyung en aan Tuanku Nan Tjerdik”. (Bersamaan waktu itu, makin jelaslah bahwa rencana pemberontakan itu seluruhnya diketahui oleh Ali Basa, kepada Regent Tanah Datar, Tuanku Pagarruyung dan kepada Tuanku Nan Cerdik) 6.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sultan Alam Bagagarsyah secara sembunyi telah menyalakan api perlawanan terhadap Belanda khususnya didaerah Agam dengan 6 distrik, terutama Kamang, Mage, Kota Baru dan Sage masuk kampung keluar kampung dan diketahui penduduk sudah membuat benteng dan hempangan (barikade) dipersimpangan jalan besar pada awal 1833. (“Jang Dipertoean van Pagarruyung immer voortging met de vonken in het geheim aan te blazen, ten dade ook in die oorden den opstand te doen breken”)7. Sesuai dengan Peraturan (Reglement) Residen Sumatera Barat tgl. 27 Okt. 1823 No. 58, pembahagian Pemerintahan di Sumatera Barat sebagai berikut:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;A.   Padang Wilayah&lt;br /&gt;1. Regent Padang, 2. Regent Pariaman, 3. Regent Pulau Cinko, 4. Regent Air Haji;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;B.   Minangkabau (Afdeeling ini dibagi sebagai berikut ) :&lt;br /&gt;1. Regent Tanah Datar, 2. Regent Tanah Datar Di bawah, 3. Regent Agam dan 5 Regen Limapuluh Koto;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di bawah Regentschap ini ada Latas (distrik) dan di bawahnya lagi ada Kampung dan Dusun. Di Tapanuli dan Nias yang masa itu tunduk ke Sumatera Barat ada pembahagian lain. Pada mula system Regent ini diadakan, Sultan Alam Bagagar Shah menjabat sebagai Regent seluruh Minangkabau, kemudian turun hanya Tanah Datar saja. Kemudian dikeluarkan lagi wilayah Tanah Datar  Bawah dari kekuasaannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Belanda, Sultan Bagagarsyah bercita-cita untuk mengusir Belanda sampai ke laut sehingga mudahlah baginya untuk mendirikan kembali Imperium Tua Minangkabau Pagarruyung bahkan akan meluaskannya. ( “Hij verbeelde zich dan indien wij genoodzaakt waren naar de stranden terug te trekken, het hem gemakkelijk zou vallen het oude Minangkabausche Rijk weder op te rigten en zelfs uit te breiden”).8&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Belanda kemudian menyelenggarakan suatu pertemuan besar di Biru, dimana hadir Sentot Ali Basa, Tuanku Sultan Bagagarsyah, Tuanku Nan Cerdik, Tuanku Alam. Disitu dibacakan oleh Residen Elout antara lain sebuah Surat Pengangkatan dari Yang Dipertuan Pagarruyung Sultan Bagagarsyah yang turut juga ditandatangani oleh Tuanku Imam Bonjol, yang menunjuk Tuanku Alam dari Kaman untuk beroperasi di daerah sebagian dari XII Koto (di pedalaman) dan di daerah 4 Raja di Kumpulan buat berontak mengusir Belanda dari tanah Minangkabau.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(“…… een door zekeren in Kaman wonende Toeankoe Alam, ontworpen, door den Jang Dipertoean van Pagarruyung en den Tuanku Imam Bondjol ondertekend stuk”).9 Tuanku Alam langsung ditangkap dan keesokan harinya di hukum pancung oleh Belanda. Begitu juga Tuanku Nan Cerdik ditangkap dan kemudian dibuang ke Betawi tgl.16-3-1833. Komandan Militer Belanda mendesak agar Sentot Ali Basa segera disingkirkan. Kepada Sentot Ali Basa Residen secara diplomatis meminta agar Sentot berangkat ke Betawi guna melaporkan situasi keamanan disana. Ternyata ia tidak dibenarkan kembali ke Sumatera bahkan kemudian dibuang ke Bengkulu. Tentera Jawa Barisannya tetap di Sumatera dan menjadi bahagian dari tentera Belanda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dibuang&lt;br /&gt;Mengenai Sultan Alam Bagagar Shah, banyak kalangan Belanda minta agar dia segera disingkirkan, tetapi Residen berpikir menunggu kesempatan yang lebih baik nanti karena Residen menganggap dia lemah pengaruhnya kepada rakyat. 10 (“Men vatte de gedachte op, om de Yang Dipertuan Pagarruyung te verwijderen, doch ditwerd tot gelegener uur uitgesteld”).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi setelah saat terakhir ditemukan bukti bahwa Regent Tanah Datar menancapkan pengaruhnya masuk kampung keluar kampung, terutama disekitar bulan April 1833, dan setelah diketahui Belanda bahwa Tuanku Sultan Alam Bagagar Shah menulis surat dan minta bantuan Inggris mengirim pasukan sebagai bantuan dari Singapura kepadanya, maka Residen Elout tidak bisa menunggu lebih lama lagi dan harus segera menangkap Regent Tanah Datar itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“…………..dat de Regent van Pagarruyung reeds vele maanden vroeger brieven had geschreven aan de Engelschen (waarschinjlijkvan Singapore) om hunne hulp in te roepen tegen ons” (……….. bahwa Regent Pagarruyung sudah sejak berbulan-bulan yang lalu menulis surat kepada Inggris (mungkin ke Singapura) agar mereka memberikan pertolongan melawan kita).11 Ketika akan pulang meninggalkan rapat di Biru itu Residen Elout dengan marahnya mengecam tindak tanduk Sultan Bagagarshah. Lalu serta merta disuruhnya pasukan menangkap Sultan Alam Bagagarsyah dan di bawa ke Padang (2 Mei 1833). Ketika perlawanan rakyat makin menjadi-jadi kemudian ia nanti dibawa ke Jawa (Betawi) untuk dibuang disana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam suratnya kepada Gubernur Jendral, Elout menulis: “Ik ben nu volkomen overtuigd dat de Regent Tanah Datar met den Ali Basa en Toewankoe nan Tjerdik sedert lang in het complot waren tegen het Gouvernement”. Kemudian didalam, suratnya tgl. 6 Desember 1833 Elout melaporkan lagi kepada Van den Bosch : “……… Untuk lebih perlu memberikan bukti kepada Yang Mulia mengulang kembali pengkhianatan seperti saya laporkan dahulu disertai bukti-bukti tertulis mengenai Yang Dipertuan Pagarruyung, mengingatkan kita bahwa dia sejak zaman Pemerintahan Kolonel dan Residen De Struers, selalu mencoba menentang kita, terbukti dalam surat jawaban kepadanya oleh Toeanku Kapoh, yang saya perlihatkan dulu kepada Yang Mulia ditempat ini (di Padang) dan juga balasan dari surat-menyurat dari Tuanku Alam yang kegiatan hebatnya di mana-mana sudah diketahui dan dalam surat menyurat yang sudah disampaikan kepada Yang Mulia. Kedua mereka ini sudah dikenal aktivitasnya satu persatu; dan sebaliknya begitu baiknya tindak tanduknya dibela di Betawi oleh Yang Dipertuan Pagarruyung”. 12&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ternyata 2 hari sesudah penangkapannya, seharusnya Sultan Alam Bagagar Shah akan mengepalai sebuah rapat besar di Sumpur, di mana akan ditentukan jam dan hari proklamasi serentak pemberontakan terhadap Belanda diseluruh alam Minangkabau. Memang berita penangkapan dan pembuangan Sultan Alam Bagagarsyah menimbulkan aksi luas yang luarbiasa diseluruh Minangkabau. Di bawah pimpinan Regent Buah, yang juga kerabat dari Sultan Bagagar Shah dia, memerintahkan kepada beberapa orang Dubalang, menyerang Letnan Hendriks, pada malam 12 Mei 1833, tetapi dalam keadaan sekarat Hendriks dapat selamat lari ke benteng. Kemudian benteng Belanda di Gugung Sigandang dikepung gerilyawan rakyat, di mana komandan benteng, Letnan Tomsos, dapat ditewaskan bersama pasukannya dan benteng dibakar. Di Ambacang, benteng Fort de Kock dan benteng Belanda di Kuriri di kepung dan diserang gerilyawan rakyat. Belanda menunjukkan kekejamannya dengan memenggal 15 orang pejuang rakyat yang dapat tertangkap.13&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kejadian baru di Sumatera Barat itu membangkitkan ketakutan Belanda akan kemungkinan berulangnya lagi perang besar “Bonjol II”.Sehingga dengan terburu-buru didatangkanlah dari Betawi bantuan pasukan sebesar 1100 serdadu bersama dengan Mayor Jenderal Riesz didampingi Komisaris Hindia Belanda, Van den Bosch. Sultan Alam Bagagar Shah dibuang di Betawi dan mangkat di sana 1849. Selama masa pembuangan di Betawi kegiatannya terus dipantau oleh intel Belanda. Tetapi bagaimanapun sampai akhir hayatnya ia tidak pernah berkhianat dalam tujuan perjuangannya.&lt;br /&gt;Dari berbagai sumber&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/38586737-3975297393868065415?l=kerajaanpane.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/38586737/posts/default/3975297393868065415'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/38586737/posts/default/3975297393868065415'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kerajaanpane.blogspot.com/2008/04/sejarah-sultan-alam-bagagar-shah-dalam.html' title='Sejarah Sultan Alam Bagagar Shah Dalam Kemelut Perang Paderi'/><author><name>Tony</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-38586737.post-5972427988255352712</id><published>2007-07-19T08:47:00.000-07:00</published><updated>2008-12-11T01:05:23.622-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Berita'/><title type='text'>Sat Gultor Amankan Indonesia Dari Aggresi</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_ozzVFEFiA08/Rp-Xftmv7oI/AAAAAAAAAGI/SkjbXAF43CY/s1600-h/gultor.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://3.bp.blogspot.com/_ozzVFEFiA08/Rp-Xftmv7oI/AAAAAAAAAGI/SkjbXAF43CY/s400/gultor.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5088952675025809026" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Untuk ukuran Indonesia, Kopassus jadi barometer pasukan khusus. Popularitas Korps Baret Merah sudah dirintis sejak pembentukan Kesatuan Komando Tentara dan Teritorium (Kesko TT) III pada 16 April 1952 berdasarkan instruksi Panglima TT III Kolonel Inf. Kawilarang. Pendidikan komando angkatan pertama diikuti 400 siswa dibuka 1 Juli 1952 di Batujajar. Komandan pertama merangkap instruktur utama dipercayakan kepada Mayor Idjon Djanbi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penyempurnaan organisasi terus dilakukan. Dari Kesko TT diubah jadi Korps Komando Angkatan Darat (KKAD, 1953), Resimen Pasukan Komando AD (RPKAD, 1955), Resimen Para Komando AD (RPKAD, 1959), Menparkoad (1962), Pusat Pasukan Khusus (Puspassus, 1966), Komando Pasukan Sandi Yudha (Kopassandha, 1971), dan Kopassus (1985).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengantisipasi maraknya tindakan pembajakan pesawat terbang era 1970/80-an, Kepala Badan Intelijen Strategis ABRI menetapkan lahirnya sebuah kesatuan baru setingkat detasemen di lingkungan Kopassandha. Pada 30 Juni 1982, muncullah Detasemen 81 (Den-81) Kopassandha dengan komandan pertama Mayor Inf. Luhut B. Panjaitan dengan wakil Kapten Inf. Prabowo Subianto. Kedua perwira sempat dikirim ke GSG-9 (Grenzschutzgruppe-9) Jerman untuk mendalami penanggulangan teror dan sekembalinya ke Tanah Air dipercaya menyeleksi dan melatih prajurit yang ditunjuk ke Den-81.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keinginan mendirikan Den-81 sebenarnya tidak terlepas dari peristiwa pembajakan pesawat Garuda DC-9 Woyla di Bandara Don Muang, Bangkok, 31 Maret 1981. Nah, pasukan yang berhasil membebaskan Woyla inilah yang menjadi cikal bakal anggota Den-81, dan belakangan diganti lagi jadi Satuan 81 Penanggulangan Teror (Sat-81 Gultor). Dari periode 1995­2001, Den-81 sempat dimekarkan jadi Grup 5 Antiteror (Grup 4 Sandi Yudha).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secara organisatoris, Gultor langsung di bawah komando dan pengendalian Danjen Kopassus. Gultor saat ini dipimpin perwira menengah berpangkat kolonel. Proses rekrutmen prajurit Gultor dimulai sejak seorang prajurit selesai mengikuti pendidikan para dan komando di Batujajar. Dari sini, mereka akan ditempatkan di satuan tempur Grup 1 dan Grup 2, baik untuk orientasi atau mendapatkan pengalaman operasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekembalinya ke markas, prajurit tadi akan ditingkatkan kemampuannya untuk melihat kemungkinan promosi penugasan ke Satuan Sandi Yudha atau Satuan Antiteror. Untuk antiteror, pendidikan dilakukan di Satuan Latihan Sekolah Pertempuran Khusus Batujajar. Operasi terakhir terbilang sukses Den-81 yaitu saat pembebasan 26 sandera yang ditawan GPK Kelly Kwalik di Irian Jaya pada 15 Mei 1996. Namun Operasi Woyla masih menjadi satu-satunya operasi antiteror dalam skala besar yang dijalankan TNI hingga saat ini. Tidak jelas berapa jumlah prajurit Sat-81 Gultor saat ini. Dari segi persenjataan, Gultor diakui lebih mewah dari dua saudaranya.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/38586737-5972427988255352712?l=kerajaanpane.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/38586737/posts/default/5972427988255352712'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/38586737/posts/default/5972427988255352712'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kerajaanpane.blogspot.com/2007/07/sat-gultor-amankan-indonesia-dari.html' title='Sat Gultor Amankan Indonesia Dari Aggresi'/><author><name>Tony</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_ozzVFEFiA08/Rp-Xftmv7oI/AAAAAAAAAGI/SkjbXAF43CY/s72-c/gultor.jpg' height='72' width='72'/></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-38586737.post-4410146394240118659</id><published>2007-03-24T09:42:00.000-07:00</published><updated>2007-03-24T09:45:16.248-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Berita'/><title type='text'>Amir Hamzah: Penyair Ulung</title><content type='html'>&lt;a href="http://photos1.blogger.com/x/blogger/1842/3922/1600/218539/pane.gif"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://photos1.blogger.com/x/blogger/1842/3922/320/466270/pane.png" border="0" alt="" /&gt;&lt;/a&gt;22 Mar 07 18:36 WIB&lt;br /&gt;60 Tahun Wafatnya Raja Penyair &lt;br /&gt;Tengku Amir Hamzah&lt;br /&gt;Tanjungpura, WASPADA Online&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;"Biarlah Daku Tinggal Di Sini, Sentosa Diriku Di Sunyi Sepi &lt;br /&gt;Tiada Berharap Tiada Berminta, Jauh Dunia Di Sisi Dewa..." &lt;br /&gt;Begitulah untaian puisi yang tertera di salah satu batu nisan dari pusara Raja Penyair Pujangga Baru, Tengku Amir Hamzah di kompleks pemakaman samping Masjid Azizi Tanjungpura. Tengku Amir Hamzah salah satu Pahlawan Nasional itu telah tiada, beliau wafat dalam usia 35 tahun. Bupati Langkat, H. Syamsul Arifin, SE dalam acara mengenang 60 Tahun wafatnya Amir Hamzah yang berlangsung sederhana di samping Masjid Azizi Tanjungpura, Selasa (20/3), selain melakukan tabur bunga dan doa bersama juga membacakan beberapa sajak karya Raja Penyair tersebut di antaranya Datanglah Engkau Wahai Maut dan Ibunda, diwarnai dalam suasana haru. &lt;br /&gt;"Jadikan peringatan ini sebagai momentum kembalinya gerak perjuangan generasi muda sebagai penerus bangsa," kata bupati mengawali sambutannya seraya menambahkan, belakangan ini masih ada anak bangsa yang tidak mengetahui sejarah kepahlawan bangsa. Kepedulian generasi muda memahami nilai-nilai perjuangan para pahlawan sudah mulai pupus dan itu akan mempengaruhi orientasi mereka dalam mengisi pembangunan saat ini. Karenanya perlu dilakukan reorientasi dengan memupuk kembali pemahaman tentang nilai-nilai dasar perjuangan para pahlawan yang murni dengan cita-cita luhur terbebas dari kolonialisme untuk pencerahan masyarakat secara keseluruhan, bukan untuk kepentingan pribadi yang sesaat dan golongan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Turut memberi sambutan, Ketua DPRD Langkat, Syafruddin Basyir serta pembacaan riwayat singkat perjuangan Tengku Amir Hamzah disampaikan Drs. Zainal Arifin AKA. Hadir dalam acara itu, Wakil Bupati, Drs. H. A. Yunus Saragih, Ketua MUI Langkat, H. Saleh Hamid, Kabag Humas Pemkab Langkat, Drs. Iskandarsyah, para Veteran RI dan ratusan organisasi kepemudaan dan pelajar lainya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pahlawan Nasional &lt;br /&gt;Tengku Amir Hamzah telah memberikan sumbangsih besar terhadap sastra melayu. Beliau merupakan tokoh pergerakan perlawanan barisan pejuang melawan penjajah semasa hidupnya. Amir Hamzah dilahirkan 28 Februari 1911, menduduki jabatan sebagai Kepala Pemerintahan RI untuk daerah Langkat yang ketika itu masih berkedudukan di Binjai. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semasa Revolusi Sosial melanda Sumatera Timur, Amir Hamzah turut menjadi korban dan tewas menggenaskan pada 20 Maret 1946. Beberapa tahun berselang, sejak 10 November 1975, Tengku Amir Hamzah ditabalkan sebagai salah satu Pahlawan Nasional. Hingga kini, selain pusaranya di Tanjungpura juga ada Monumen Pahlawan Nasional Amir Hamzah di kompleks perkantoran Pemkab Langkat di Stabat.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/38586737-4410146394240118659?l=kerajaanpane.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/38586737/posts/default/4410146394240118659'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/38586737/posts/default/4410146394240118659'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kerajaanpane.blogspot.com/2007/03/amir-hamzah-penyair-ulung.html' title='Amir Hamzah: Penyair Ulung'/><author><name>Tony</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-38586737.post-5180679901394737118</id><published>2007-01-18T00:17:00.000-08:00</published><updated>2007-01-18T00:22:42.310-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Sejarah'/><title type='text'>Dinasti Pane</title><content type='html'>&lt;a href="http://photos1.blogger.com/x/blogger/1842/3922/1600/218539/pane.gif"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://photos1.blogger.com/x/blogger/1842/3922/320/466270/pane.png" border="0" alt="" /&gt;&lt;/a&gt;Dinasti Pane&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berikut adalah Dinasti Pane yang pernah direkam oleh sejarah sejak tahun 1700-an&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rulers (title Sutan Gagar Alam) &lt;br /&gt;1790 - 1813                Raja Sati &lt;br /&gt;1813 - 1856                Raja Badiri Sutan Mengedar Alam &lt;br /&gt;1856 - 1880                Sutan Gagar Alam &lt;br /&gt;1880 - 1907                Sutan Mengedar Alam Syah &lt;br /&gt;1907                       Tengku Sulung Syahmara &lt;br /&gt;1907 - ....                Sutan Gagar Alam Rahmatullah &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Pelabuhan Pane ini dari mana 'banyak kamper bermutu" dikeluarkan, terletak di pantai timur di bawah Perlak dan tidak lain dari Pane." Tampaknya persamaan fonetik dengan Langsa, Tamiang, Kompe, Aru atau Labuhan Deli tindak mungkin, sama juga dengan Kota Cinayang berkembang antara akhir abad ke-12 M dan akhir abad ke-14 M: E. McKinnon, "Research at Kota Cina, a Sung-Yang period trading site in East Sumatra", Archipel, 14, 1977, hal. 19-31.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salah satu dari dua kuala yang terletak sesudah Tanjung balai, serta sungai yang berkuala di sini (Aek Pane atau Sungai Pane alias Batang/Sungai Barumun) dinamakan Pane. Selain itu, sebuah kampung di sebelah kanan anak sungainya yang pertama, yaitu Sungai Bila, bernama Pane. Mungkin bagian hilir anak sungai ini juga dinamakan Pane karena merupakan salah satu dari perpanjangannya. (Pada 2' 22' U 100' 5' T: Residentien Sumatra's Oostkust…, dimana terdapat tempat-tempat lain yang bernama Pane.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam peta Residentien Sumatra's Oostkust…nama Pane diberikan kepada kuala dan bagioanm hilir Batang atau Sungai Barumun yang bermuara dengan Sungai Bila. Hal yang sama dalam Atlas van de gewesten der buitenbezittingen, peta Tropisch Nederland, Batavia, 1938, lembar 2a, sungainya dinamakan Sungai Barumun sampai Kuala Pane. Sama juga dalam Indonesia 1:250000, lembar "Tanjung Balai", 1960. Diduga nama Pane diberikan untuk bagian hilir Sungai Bila, yang kadang kala juga dinamakan Pane, serupa dengan bagian hilir Sungai Barumun dalam beberapa peta. Di Kampung Pane, jarak antara kedua sungai ini beberapa kilometer saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam suratnya kepada Jacques I, Iskandar Muda mencatat Pane sebagai jajahan Aceh di pantai timur Sumatra. Sedangkan dalam Negarakertagama terdapat nama Pane. Juga dalam prasasti Rajendra I di Tanjavur mencatat "Pane di tepi Sungai" di antara kota atau daerah yang diserang oleh tentara Cola pada tahun 1025 M. (Lombard, hal 98-99). Lokasi ini diduga bernama Kuala Pane. Sekarang di bagian selatannya terdapat pelabuhan Labuhan Bilik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun hipotesisi tentang lokasi ini, sebagaimana sering diusulkan, diragukan karena di gabian hulu sungai Barumun, di dataran tinggi Padang Lawas, terdapat sekumpulan candi dan kebanyakan terletak di tepi sungai yang juga bernama Pane (Batang Pane), anak Sungai Barumun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berdasarkan epigrafi dan tanda-tanda pengaruh Jawa, candi-candi ini diduga dari abad ke-10 hingga abad ke-14 M dan merupakan peninggalan dari sebuah kerajaan besar beragama Buddha dan berpusat di daerah pedalaman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nama Pane juga terdapat di tempat lain: Sebuah Kota dan sebuah daerah di sebelah timur Danau Toba dan daerah pedalaman kota Tanjung Balai. Wheatly berpendapat bahwa sal kata nama Pane berasal dari bahasa Tamil yang berarti "ladang", tapi ini hanya merupakan sebuah usulan saja. Pane juga nama marga orang Batak di Pantai Barat dan karena Padang Lawas lebih dekat dengan pantai ini, R. Mulai mengusulkan bahwa Pelabuhan Sibolga dan Barus merupakan pintu masuk kerajaan tersebut yang berpusat di daerah candi-candi.&lt;br /&gt;Jelas bahwa Padang Lawas dahulu berhubungan dengan pantai barat. Mungkin daerah Toba di selatan Danau Toba, tercatat dalam NegaraKertagama, berperan juga dalam hubungan ini. Namun menurut Prasasti Tanjavur, "Pane terletak di tepi sungai", dan kurang dari seabad kemudian teks kita mencatat Pane sebagai pelabuhan. Akhirnya pada abad ke-17, sebuah surat dari Iskandar Muda menyebut Pane dalam daftar tempat-tempat di pantai timur, di antara Tanjung Balai dan Rokan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pelabuhan Pane dahulu benar-benar dekat dengan kuala sungai Pane dan kemungkinan besar terletak di tempat yang dinamakan Pane sekarang. Hipotesisi ini diperkuat oleh keadaan dimana sebuah anak sungai Barumun di bagian hulu, Sungai Barumun dan kualanya dinamakan Pane. Mengenai Padang Lawas tidak ada halangan bahwa itu termasuk dalam sebuah kerajaan yang bernama Pane dan berpusat di pantai atau sebaliknya berpusat di daerah pedalaman dan berpintu di pantai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Daerah-daerah yang paling kaya dengan kamper terletak di antara pelabuhan Barus dan pelabuhan Pane, yakni Bukit Barisan. Maka adanya dua pelabuhan utama untuk kamper yaitu di tepi Lautan Hindia dan tepi Selat Malaka adalah akibat dari konteks geografi saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun untuk mengekspor kamfer dalam jumlah yang besar pada abad ke-12 M, Pane semestinya berhubungan dengan daerah-daerah yang terletak di bagian hulu Sungai Barumun, dan kalau sungai ini juga dinamakan sungai Pane, maka sungai inilah yang sejak dahulu merupakan jalan utama untuk kamfer dan bahan-bahan dari pedalam ke pantai timur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini mungkin konfirmasi bahwa kerajaan Pane meliputi seluruh daerah aliran sungai Barumun termasuk Padang Lawas. Walaupun Pane tidak disebut kemudian dalam sumber Cina, termasuk Ma Huan, tidak berarti kerajaan ini telah hilang seperti yang ditunjukkan oleh Millsm karena Ma Huan juga tidak menyebutkan kerajaan Lampung dan Kampar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pane juga merupakan salah satu dari dua kerajaan yang tidak dicatat oleh Marco Polo, mungkin karena Pane terletak di salah satu daerah yang tidak dikunjunginya. Namun kemerosotan Sriwijaya sejak abad ke-13 M akibat serangan Siam dan Jawa, serta hilangnya kekuasaan atas kawasan selat, pasti juga melemahkan Padang Lawas-Pane.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berdasarkans sebuah prasasti dari abad ke-14 yang ditemukan di bagian hulu daerah aliran sungai Rokan, yang dipercayai diperuntukkan bagi seorang tuan tanah yang tunduk kepada Raja Adityawarman dari Minangkabau, diduga bahwa zaman itu di Padang Lawas masih terdapat sebuah pusat kerajaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada abad ke-16 sewaktu Malaka dan Aceh berkembang, Sulayman al-Mahri mengenal sebuah pelabuhan saja untuk kamfer di seluruh Sumatera, yakni Fansur dan tidak mencatat Pane di antara Aru dan Rokan yang dideskripsikan sebagai dua pelabuhan kecil. Pires meletakkan kerajaan Arcat, yang tunduk pada Aru, di daerah yang diduga bernama Pane pada zaman sebelumnya. Selain itu, Pires menambahkan bahwa Aru menyediakan sejenis kamfer yang kualitasnya lumayan dan berbagai jenis barang. Sebagian dari barang dagangan itu beredar di Minangkabau sedangkan sebagain lainnya dibawa ke Fansur , seperti jaman dahulu. (Cortesao hal 148).&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/38586737-5180679901394737118?l=kerajaanpane.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/38586737/posts/default/5180679901394737118'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/38586737/posts/default/5180679901394737118'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kerajaanpane.blogspot.com/2007/01/dinasti-pane.html' title='Dinasti Pane'/><author><name>Tony</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-38586737.post-4682342351397060984</id><published>2007-01-17T23:59:00.000-08:00</published><updated>2007-01-18T00:14:16.765-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Sosial'/><title type='text'>Studi Kultur Berpikir ala Batak</title><content type='html'>&lt;a href="http://photos1.blogger.com/x/blogger/1842/3922/1600/218539/pane.gif"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://photos1.blogger.com/x/blogger/1842/3922/320/466270/pane.png" border="0" alt="" /&gt;&lt;/a&gt;Studi Kultur Berpikir ala Batak, Jawa dan Minang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"...an investigation whose purpose is to explore a situation, phenomenon, question, or problem to arrive at a hypothesis or conclusion about it that integrates all available information and that can therefore be convincingly justified" (Kurfiss, 1988, p. 2). Critical thinking can also be seen as "...the careful and deliberate determination of whether to accept, reject, or suspend judgment about a claim" (Moore &amp; Parker, 1986, p.72) and as "...thinking that facilitates judgment because it relies on criteria, is self-correcting, and is sensitive to context" (Lipman, 1991, p. 116).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berpikir kritis menurut defenisi di atas merupakan sebuah investigasi yang bertujuan untuk mengeksplorasi sebuah situasi, penomena, teka-teki atau masalah untuk sampai kepada sebuah hipotesa atau kesimpulan yang mengintegrasikan semua informasi yang ada dengan maksud agar dapat dijustifikasi secara meyakinkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tulisan ini berasal dari Chandra, J.S. (2004). Notions of critical thinking in Javanese, Batak Toba and Minangkabau culture . In B. N. Setiadi, A. Supratiknya, W. J. Lonner, &amp; Y. H. Poortinga (Eds.). Ongoing themes in psychology and culture (Online Ed.). Melbourne, FL: International Association for Cross-Cultural Psychology. Retrieved from http://www.iaccp.org.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal yang menarik dari studi ini adalah perbandingan kultur berpikir orang Batak (Toba) dengan Jawa dan Minang. Yang terakhir ini merupakan dua suku paling dominan di Indonesia paska kemerdekaan, setidaknya selain dari Bugis, Ambon, Aceh, Melayu dan lain sebagainya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terlebih dahulu dipahami bagaimana sistem sosial ketiga pihak yang akan dibandingkan tersebut. Orang Jawa dikatakan mempunyai dasar kehidupan yakni untuk hidup dalam harmonitas, mempunyai tenggang rasa, toleran dan menghindari perselisihan inter-personal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka beranggapan bahwa kebersamaan dalam kelompok atau group lebih penting dari kepentingan pribadi. Dalam segi penghormatan mereka mempertahankan sistem hirarkis dengan cara menunjukkan penghormatan kepada mereka yang berada dalam posisi yang lebih tinggi dan melindungi mereka yang berada di level yang bawah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sistem sosialnya bersifat feudal, dimana masyarakat yang mempunyai posisi yang tinggi yang akan lebih menikmati kehidupan dan merasa nyaman dan puas dengan kondisinya sekarang. Motto hidupnya, kehidupan adalah perputaran kejadian yang penuh dengan penderitaan, maka terimalah itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka juga mempunyai kebiasaan andap asor yakni siap melayani/menolong mereka yang mempunyai status sosial. Bersikap low profile; jangan pernah anggap dirimu lebih tinggi dan tidak baik untuk sikap berbeda. Fatalistik, yakni beranggapan tidak ada yang dapat dilakukan untuk mengubah hidup ini. Dan dalam cara pandang terhadap waktu lebih melihat ke masa sekarang dan masa lalu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedangkan orang Batak, dalam hal kebersamaan, solidaritas antar kelompok berhubungan dengan talian darah atau perkawinan. Makna kehidupan bagi mereka adalah perjuangan untuk bertahan atau survive. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam hal penghormatan, mereka akan melihat posisi seseorang terhadap orang lain atau dimana tempatnya berada. Level sosial seseorang tidak tetap tergantung apa posisinya dalam sebuah upacara. Misalnya Hula-hula, Parboru, atau Dongan Sabutuha.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam hal berinisitaif untuk bertindak, mereka akan melakukannya sesuai dengan hak dan tanggung jawab yang ada padanya. Selain itu, bila kehidupannya dipandangnya tidak berkembang, mereka akan pindah ke tempat lain untuk meningkatkan taraf kehidupan, ingin membuktikan bahwa seseorang bisa berubah menjadi lebih baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam hal tujuan hidup, mereka akan mementingkan hagabeon yakni mempunyai banyak anak, Hamoraon, yakni untuk menjadi kaya, dihormati atau hasangapon dan untuk maju dan modern atau hamajuon. Bagi mereka pendidikan lebih penting untuk menjadi maju dan mencapai kehidupan yang lebih baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedangkan nilai-nilai pada orang Minang adalah kesatuan dalam norma-norma budaya dan ajaran Islam. Sedangkan kebersamaan ditentukan oleh hubungan maternalistik. Prinsip persamaan, manusia hanyalah salah satu dari beberapa hal di dunia ini seperti tanah, bumi, rumah, suku dan agama atau nagari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka akan belajar dari segala sesuatu hal bahkan belajar dari alam dan tentunya pengalaman (alam terkembang jadi guru). Mempunyai kebiasaan untuk merantau untuk mencari kehidupan yang lebih baik dan untuk menghindari berada dalam masyarakat dengan opini yang berbeda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari riset yang dilakukan ditemukan bahwa setiap tiga suku tersebut di atas mempunyai beberapa keunikan tersendiri di samping tentunya banyak ditemukan kesamaan. Kultur Jawa mendorong kepada cara berpikir yang reflektif, orang lain mungkin saja tidak dapat menyadari betapa dalamnya seorang Jawa terlibat dalam pemikirannya sendiri karena pemikiran tersebut tidak ditunjukkan oleh bahasa tubuhnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di lain pihak, Toba dan Minang lebih menyukai cara berpikir yang ekspresif. Mereka sanggup untuk berargumen berdasarkan prinsip-prinsip logika. Bagi orang Minang, prinsip logika biasanya tidak akan kontradiksi dengan dengan prinsip keyakinan mereka yakni ajaran Islam, karena mereka beranggapan bahwa hukum-hukum Islam lebih mulia dari hukum-hukum yang dibuat oleh manusia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedangkan bagi orang Batak, kepercayaan diri merupakan modal untuk berargumen. Walaupun begitu, saat fakta-fakta dan bukti-bukti yang kontradiktif dapat diketahui kemudian, mereka dapat berubah opini dalam sebuah isu yang debatable tanpa merasa malu atau sakit hati. Dengan demikian, argumentasi dapat berjalan dengan terbuka dan setiap orang terkait diundang untuk saling berbagi opininya.&lt;br /&gt;Dalam hal berekspresi, orang Jawa lebih memilih untuk menimbang matang-matang apakah telah sesuai saatnya untuk menyampaikan sebuah kritik terhadap seseorang. Tempat, waktu, kata yang digunakan, intonasi dan perbandingan status pengkritik dan yang dikritik harus dipertimbangkan masak-masak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedangkan orang Minang dan Batak lebih memilih untuk menyampaikannya secara langsung agar orang tersebut menyadari dan mengetahuinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat orang Jawa mempunyai kebiasaan untuk tidak mengekpresikan kritikannya secara terbuka dan lebih memilih untuk menyampaikannya secara tidak langsung dengan bercanda dan bergurau, orang Batak lebih beranggapan bahwa melalui argumentasi dan pembicaraan permasalahan dapat diselesaikan sehingga tidak ada lagi perasaan sakit hati antara kedua pihak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedangkan pihak Minang lebih memilih untuk menyelesaikan sebuah permasalahan di Lapau. Para lelaki mendiskusikan semua hal di kedai kopi dan tidak ada keharusan agar permasalahannya selesai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Konsep-konsep berpikir bagi orang Jawa adalah bahwa berpikir kritis berarti berpikir reflektif atau mawas diri dalam pencarian kebenaran. Karakteristik dari seorang yang berpikir kritis bagi orang Jawa adalah bahwa dia harus objektif dalam membedakan sesuatu; bila dibutuhkan dapat menjaga jarak secara emosional dari orang atau objek yang dikritisi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka juga sanggup untuk bersikap fleksibel dalam menyampaikan opininya secara berbeda dari pihak mayoritas. Mereka menggunakan beberapa acuan dalam menilai orang lain dan membutuhkan waktu untuk berpikir sehingga tidak dibutuhkan untuk tergesa-gesa. Bersikap sungkan dan lambat memberi respon.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedangkan bagi orang Toba, berpikir kritis merupakan berpikir secara logika, sistematis dan rasional. Karakteristik orang yang kritis adalah percaya diri, sanggup untuk bersikap beda dengan yang lain, istiqomah, dapat mengontrol emosi seseorang, mempunyai keingintahuan untuk menyampaikan sesuatu secara personal atau di depan umum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedangkan bagi orang Minang, berpikir kritis itu adalah berpikir secara logis, sesuai dengan norma-norma budaya dan ajaran Islam. Karakteristik orang berpikir kritis adalah, jujur, sanggup berbeda dengan yang lain, mampu berargumentasi dan demokratis atau terbuka untuk opini yang berbeda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam hal alat-alat penyampaian opini, orang Jawa lebih memilih beberapa bentuk seni budayanya untuk menyampaikan opininya yang berbeda. Sedangkan bagi orang Batak, mereka menempatkan norma-norma budaya sebagai acuan praktis untuk permasalahan kehidupan; sebagai benteng untuk melindungi hak seseorang. Orang Minang sangat bernuansa demokratis, egaliter dan semua orang berada dalam status yang sama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang Jawa akan menggunakan diskusi terbuka untuk mencari sebuah solusi, semua orang diundang dan keputusan akhir harus disetujui oleh mayoritas. Bagi orang Batak, diskusi terbuka digunakan untuk menyampaikan pendapat dan biasanya juga digunakan untuk menyelesaikan masalah. Bagi Minang, harus terjadi terlebih dahulu konsensus kelompok  sebelum sebuah keputusan diambil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang Jawa mempunyai kebiasaan untuk toleran bagi mereka yang berbeda. Sedangkan bagi orang Batak, prinsip demokrasi Dalihan Natolu membuat setiap orang harus mempunyai status yang sama dengan yang lain. Sedangkan bagi orang Minang, mereka menekankan semangat dan moral, pikiran dan pengetahuan, keyakinan dan agama merupakan hal yang ideal bagi orang Minang.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/38586737-4682342351397060984?l=kerajaanpane.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/38586737/posts/default/4682342351397060984'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/38586737/posts/default/4682342351397060984'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kerajaanpane.blogspot.com/2007/01/studi-kultur-berpikir-ala-batak.html' title='Studi Kultur Berpikir ala Batak'/><author><name>Tony</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-38586737.post-116878235321687663</id><published>2007-01-14T05:41:00.000-08:00</published><updated>2007-01-14T05:45:53.223-08:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>&lt;a href="http://photos1.blogger.com/x/blogger/1842/3922/1600/218539/pane.gif"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://photos1.blogger.com/x/blogger/1842/3922/320/466270/pane.png" border="0" alt="" /&gt;&lt;/a&gt;Rulers (title Sutan Gagar Alam) &lt;br /&gt;1790 - 1813                Raja Sati &lt;br /&gt;1813 - 1856                Raja Badiri Sutan Mengedar Alam &lt;br /&gt;1856 - 1880                Sutan Gagar Alam &lt;br /&gt;1880 - 1907                Sutan Mengedar Alam Syah &lt;br /&gt;1907                       Tengku Sulung Syahmara &lt;br /&gt;1907 - ....                Sutan Gagar Alam Rahmatullah&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/38586737-116878235321687663?l=kerajaanpane.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/38586737/posts/default/116878235321687663'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/38586737/posts/default/116878235321687663'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kerajaanpane.blogspot.com/2007/01/rulers-title-sutan-gagar-alam-1790.html' title=''/><author><name>Tony</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry></feed>
